Startup Kesehatan, Peluang Cerah Masa Depan

Startup Kesehatan, Peluang Cerah Masa Depan

Banyak tech startup kesehatan termotivasi mengincar besarnya nilai pasar kesehatan pada masa mendatang yang semakin meningkat setiap saat.

Bicara teknologi, ada sebuah prediksi bahwa pada beberapa tahun ke depan, profesi dokter akan digantikan teknologi. Bahkan, sekitar 80% tindakan dokter terhadap pasien diambil alih teknologi. Prediksi itu muncul dari Vinod Khosla, salah satu Co-Founder Sun Microsystems dan Founder Khosla Ventures.

Jika 80% tindakan dokter akan dilakukan teknologi, fungsi dokter tersisa 20%.

Aktivitas seperti memberikan diagnosis, resep, dan pemantauan/observasi nantinya akan digantikan software dan smart hardware. Peran dokter akan lebih mengarah hal-hal yang baru.

Melihat perkembangan internet saat ini, hanya masalah waktu semua akan menjadi kenyataan. Artinya, bukan tidak mungkin peran pendukung industri kesehatan ini akan diambil alih semua oleh teknologi.

Kehadiran teknologi di bidang kesehatan memudahkan orang dalam mendapatkan dan mengakses layanan kesehatan.

D isisi lain, peluang berbasis digital terbuka lebar, sekaligus menjawab banyaknya para tech startup di bidang layanan kesehatan dan obat-obatan. Aplikasi mobile terkait kesehatan makin beragam, mulai dari pengontrol berat badan, deteksi detak jantung, hingga panduan yoga. Sebut saja Edmondo, Sport Tracker, Calorie Counter, Soleil Organics, dan masih banyak aplikasi pendukung lainnya.

Untuk aplikasi local Indonesia sudah bertebaran karya anak bangsa seperti Mediku, Konsula, MeetDoctor, Apotik Antar, ProSehat, dan banyak lagi. Lihat saja di Play Store, Apple Store, Marketplace Windows Phone atau yang lain.

Dari data GP Farmasi 2014, pasar farmasi mencapai Rp 52 triliun. Pada 2015 naik cukup fantastis menjadi Rp 65 triliun. Setahun kemudian, prediksinya mencapai mencapai Rp 85 triliun.

Untuk nilai jual beli obat-obatan online dan tentu saja resmi, pendapatan diperkirakan mampu mencapai Rp 5 triliun.  Karena itu, Badan POM melarang apotik online, kalau tanpa bukti sahih izin operasional sebagai apotik konservatif alias offline.

Pada 2012, Apotik Antar sudah beroperasi dalam platform website. Empat tahun kemudian, mereka merilis aplikasi mobile dan termasuk dalam bisnis digital. Sistem penjualan itu masuk dalam format e-Commerce sebagai marketplace karena mereka bukan produsen.

Kemudahan yang diberikan oleh Apotik Antar melalui aplikasi mobile berupa obat tanpa resep dokter, dengan resep dokter yang harus dilampirkan, alat kesehatan, dan consumer product.   Uniknya lagi, Apotik Antar ini mengggandeng Go-jek untuk mempermudah pengiriman.

“Sebagai bentuk garansi, Apotek Antar menjamin obat sampai tujuan dalam satu jam. Kami hanya bekerjasama dengan apotik yang memiliki surat izin apotek (SIA) di seluruh Indonesia”, tegas Jonathan Sudharta, CEO MHealth Tec, tech startup yang menaungi Apotik Antar.

Sebagai pendapatan, Apotik Antar menerapkan sistem komisi bagi 200 apotik se-Jabodetabek. Pada masa mendatang, Apotik Antar akan berekspansi di 12 kota di Tanah Air.

Mengenai sumber dana, Jonathan memberi sinyal sudah ada beberapa venture capital yang jadi pemodal Apotik Antar.

Seiring berjalannya waktu, Apotik Antar juga membangun visi sebagai “elevated Indonesia Healthcare ecosystem” dan menjadikan bisnis mereka sebagai startup yang berkontribusi dalam dunia kesehatan Indonesia.

Startup Kesehatan Modal Sendiri

Ada juga ProSehat, yang merupakan produk ATOMA, startup Indonesia dengan pendanaan sendiri atau bootstrap. ProSehat akhirnya memiliki investor seed funding.

ATOMA –sejak berdiri pada 2012– sudah memiliki produk berbasis website, TanyaDok.com, sebuah situs tanya jawab seputar kesehatan, dengan dukungan 300 dokter dan sumber daya anggota sekitar 700.000 orang.

Pada 2014, berdirilah komunitas para dokter dalam wadah digital: dokter.prosehat.com. Jumlah anggota dokter mencapai 4.000 dokter di seluruh Indonesia. Setahun kemudian, ProSehat merilis aplikasi marketplace.

Perbedaan paling signifikan startup ini dari perusahaan kesehatan digital yang lain adalah komunitas. Bukan hanya sekedar jual beli, namun jadi startup yang mengkampanyekan hidup sehat.

“Konsultasi dan tanya jawab seputar kesehatan, hingga produk farmasi menjadi pemicu hadirnya ProSehat”, ujar dr. Gregorius Bimantoro, Founder & CEO ATOMA.

Untuk sistem monetisasi, ProSehat menerapkan dua sistem yaitu komisi sebagai marketplace produk farmasi dan iklan digital kesehatan. Pengembangan lainnya, sudah mulai dilakukan dengan memperluas marketplace hingga 20 kota besar Indonesia, dengan sistem memvariasi payment gateway, yang sebelumnya hanya menggunakan sistem bayar di tempat (cash on delivery).

Inovasi Gregorius adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dan bukan sekedar mencari keuntungan. Visi dan misi itu membuat dia dan tim ProSehat memenangi beberapa kompetisi bisnis. Salah satunya The Most Promising Startup in Indonesia dari Echelon pada 2013 dan Telkom Indigo Award pada 2014. Kabar terbaru, ProSehat juga menjadi peserta kompetisi Seedstars World di Geneva.

Banyaknya tech startup di Indonesia, idealnya bisa memberikan manfaat positif bagi masyarakat Indonesia. Anda tertarik untuk ikut serta?


Sumber: Marketeers, April 2016

 

 

admin
admin
Administrator of Parama Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *