Exponential Branding, Apa Itu?

Exponential Branding, Apa Itu?

Melakukan branding dengan konservatif sudah banyak ditinggalkan. Idealnya sebuah branding juga harus tumbuh positif seiring perkembangan teknologi, seperti mengutip istilah deret eksponensial dalam ilmu Matematika. Komitmen perusahaan untuk membuat dunia yang lebih baik dengan dukungan teknologi akan jadi kunci penting.

Bicara branding, kini tidak mungkin rasanya jika hanya menawarkan model promosi yang biasa-biasa. Sebuah brand harus maju selangkah menuju exponential branding yang nantinya mampu memberikan pertumbuhan terhadap brand itu sendiri.

Eksponensial –bermakna perpangkatan–, dimaksudkan Laina Greene, ExO Consultant-Founder GETIT, Inc. adalah sebuah proses percepatan pertumbuhan. Bahkan, untuk bisnis umum sekalipun idealnya harus lebih cepat dibanding bisnis model linear.

Konteks yang dimaksud dalam percepatan tersebut intinya ada 2, menurut Laina. Pertama soal peranan teknologi terkini, dan misi perusahaan untuk sesuatu yang lebih baik.

Saat ini sudah sangat banyak bisnis yang menerapkan sistem eksponensial. Sebagai contoh, layanan transportasi berbasis mobile apps. Teknologi sangat berperan penting dalam proses percepatan ini.

Ada hal yang menarik, perusahaan yang mengelola bisnis dengan mengutamakan human spirit, langsung mendapat tempat di hati masyarakat. Apresiasi akan diberikan kepada startup yang peduli terhadap pelestarian lingkungan.

Komitmen akan membangun trust dan kepercayaan mampu membuat perusahaan semakin kuat reputasinya. Pada akhirnya, reputasi itu yang akan mendongkrak pertumbuhan startup tersebut.

Peranan Empati

Munculnya perkembangan teknologi yang luar biasa dikhawatirkan mengurangi keterlibatan manusia dalam beraktivitas. Fortune melansir, teknologi akan menggantikan tugas dan peran dokter di dunia kesehatan hingga 80%.

Munculnya teknologi, menurut Laina, akan berdampak pada 3 hal, yaitu digitalisasi, demokratisasi, dan yang terakhir dematerialisasi. Hanya empati manusialah yang berperan sebagai pembeda di tengah teknologi yang semakin canggih. Faktor ini yang harus disadari pebisnis, selain teknologi itu sendiri.

Serbateknologi tak akan melepaskan peran manusia, seperti penanganan keluhan, kekhawatiran hingga memahami perasaan orang.

Kehadiran teknologi tidak serta merta melepaskan semua yang ada di dunia. Perusakan lingkungan, kemiskinan, terorisme, pemerataan pendidikan, dan banyak lagi. Itu semua dituangkan dalam deklarasi Sustainable Development Goals (SDGs).

Poin lain yang perlu diperhatikan terkait branding adalah, sharing economy, yang memberikan kebebasan bagi pribadi dan kelompok/perusahaan untuk berbagi. Hal itu membangun kesadaran efisiensi sumber daya untuk digunakan bersama.

Co-working space, aplikasi jasa transportasi seperti Go-jek, Grab, dan Uber merupakan contoh nyata kehadiran sharing economy.

Stephen R. Covey pernah memiliki gagasan dalam bukunya, “The Speed of Trust”, yang diinterpretasikan Laina, kepercayaan itu adalah pemacu ekonomi. Kepercayaan juga dianalogikan sebagai mata uang ekonomi baru. Semakin sebuah merek (brand) dipercaya, semakin tinggi nilainya.

Brand for Good

Bagi Laina, sehebat-hebatnya sebuah teknologi, ia tidak akan bertahan jika hanya memikirkan keuntungan semata. Bisnis harus memiliki dampak positif bagi manusia dan lingkungannya yang disebut brand for good. Selain itu, hadirnya teknologi tidak serta-merta membuat konsumen atau pelanggan berubah menjadi robot, justru membantu semakin memanusiakan mereka.

Keterlibatan konsumen merupakan hal utama dalam membangun brand for good, dimana kolaborasi bersama dalam membuat kebaikan bisa terwujud.

Sebagai contoh, Muhammad Yunus, peraih hadiah Nobel dari Bangladesh dengan Grameen Bank-nya, atau The Body Shop milik Anita Roddik yang memberikan manfaat bagi orang banyak dalam menjalankan bisinisnya. Kebaikan ini justru memunculkan istilah social enterprise, yang bertujuan mencari keuntungan sekaligus membantu pihak lain dalam berbisnis.

Untuk Indonesia sendiri, ada brand bernama Torajamelo yang fokus pada produk tenun khas Toraja, Sulawesi Selatan. Brand ini mencoba membangun social impact dengan memberdayakan perempuan dalam bisnisnya. Menurut pemilik Torajamelo, pemberdayaan ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga, sekaligus mengurangi angka kemiskinan.

Faktor Sukses

Bagi Laina, ada 4 faktor kesuksesan yang dikaitkan dengan teknologi dan misi dari social impact. Pertama, branding harus memiliki otentisitas. Kedua, branding harus seiring dengan reputasi yang sedang dijalankan, atau dengan kata lain walk to walk. Ketiga, kepercayaan. Dan yang keempat, integritas. “Bila anda memiliki keempat faktor ini, akan memiliki apa yang disebut exponential branding, ujar Laina.

Nah, bagaimana dengan brand anda?

 

Sumber: Marketeers, April 2016

admin
admin
Administrator of Parama Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *