Keuntungan Krisis Finansial Startup

Keuntungan Krisis Finansial Startup

Bagi para startup berbasis teknologi, masalah yang kerap dihadapi adalah kesulitan mengatur lalu lintas keuangan. Potensi besar yang dimiliki para startup kandas begitu saja, meskipun dana yang diberikan investor sangat berlimpah. Ditambah lagi keuntungan yang tidak seberapa, menambah sulitnya pengelolaan startup yang berbasis teknologi itu.

Anda bisa mempelajari apa yang sudah dilakukan oleh Pendiri Tees.co.id, Aria Rajasa. Sebagai informasi, Aria pernah menjadi narasumber Kompetisi Bisnis 2015, event yang menjadi cikal bakal Parama Indonesia, gelaran LiMa Group dan LiMa Ventura.

Tees.co.id sendiri adalah sebuah marketplace t-shirt sekaligus berbagai macam suvenir yang bisa dimodifikasi sesuai selera pembeli.

“Masa lalu membuat saya belajar banyak tentang startup. Banyak pengalaman buruk yang sudah saya lalui, mulai dari uang dibawa kabur ratusan juta hingga memecat karyawan. Kegagalan itu membuat saya belajar dan kembali membuka Tees.co.id pada 2012. Setelah  mengalami kegagalan dan membangun kembali startup, prinsipnya hanya satu: bagaimana caranya bisa profit dalam waktu dua tahun, karena runway-nya hanya dua tahun. Bisa dikatakan, inilah role model startup jangka pendek”, ujar Aria.

Pelajaran penting yang didapat saat membangun startup adalah ketika mendapatkan suntikan dana miliaran rupiah, jangan dihabiskan semua. Gunakan uang tersebut sebaik-baiknya, jumlah karyawan juga tidak perlu banyak, maksimal 20 orang. Untuk langkah selanjutnya, susun perencanaan yang menguntungkan dalam jangka pendek.

Aria menambahkan, ”Hanya dengan waktu delapan bulan, Tees.co.id langsung profit, dan yang terpenting jangan berada di garis merah saja.”

Selain itu, salah satu rahasia sukses usaha yang dilakukannya adalah asas keterbukaan, di mana semua karyawan berhak tahu pemasukan dan pengeluaran atau istilahnya spreadsheet financial.

Alasan spreadsheet financial cukup simple, karyawan bisa tahu apakah mereka bisa gajian atau tidak, sekaligus menjadi tantangan bagi karyawan untuk mencapai target agar bisa gajian. Keterbukaan profit ini dilakukan setiap tanggal 15, sehingga bisa tahu apakah akhir bulan bisa bawa pulang uang atau tidak.

Sudah pasti model seperti ini tak lepas dari kesulitan. Tapi setidaknya upaya yang dilakukan sebagai sebuah challenge agar keuangan tidak menjadi nihil.

“Pernah juga disaat dekat mau lebaran, di mana karyawan harus mendapatkan THR. Saat itu tidak ada uang untuk bayar THR. Nah, dari sini saya meminta semua karyawan untuk bekerja keras mencapai target agar bisa berlebaran bersama keluarga.” ujar Aria.

Hal yang sama juga dialami oleh startup penyedia tehnologi e-Commerce bernama Sirclo. Brian Marshal sang pendiri pernah merasakan kesulitan menggaji karyawannya, dan sudah berlangsung beberapa kali. Hal yang terparah ketika harus melepaskan sepuluh orang dari tiga puluh karyawannya sendiri.

“Yang paling sulit adalah bagaimana menjelaskan kepada yang bersangkutan kalau mereka akan di-PHK. Kemudian, bagaimana caranya menenangkan karyawan lain atas PHK tersebut. Pastinya, mereka akan berpikir kalau mereka akan dirumahkan juga”, tandas Brian, yang pernah mengecap pendidikan di Nanyang Technology University Singapura.

Ada satu hal terpenting yang dipegang oleh Brian, bahwa gaji karyawan harus diutamakan dari pada keuntungan pribadi, meskipun pada akhirnya berhutang. “Karyawan gajian tapi saya sendiri ngutang sana-sini,” jelas Brian.

Nah, apakah Anda masih berminat mendirikan startup dengan sistem seperti itu? Cukup menarik, bukan?


Sumber: Marketeers.com

admin
admin
Administrator of Parama Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *